Rabu, 17 September 2014

Membangun Iman

Dalam hal membangun iman diperlukan pondasi yang kuat, agar bangunan yang dibangun dapat berdiri kokoh dan tak terombang ambingkan bahkan dapat pula hancur bila diterpa badai atau gempa.
pada saat kami membangun sebuah gedung gereja yang memang bangunannya adalah rehapan dari fungsi sorum mobil sebelumnya menjadi gereja yang megah dan kokoh ditengah kota.
bangunan yang lama kami rehap atau renofasi mulai dari pondasi yang ukurannya sebelumnya kecil diperbesar dan balok seloknya ditambah agar kokoh, itulah terutama diperhatikan bila membangun sebuah gedung atau rumah.
Dalam membangun iman pondasi itu harus kuat dan dibangun diatas dasar yang kokoh. (Yohanes
15:1-8). Artinya tetap bersatu dengan
Yesus. Sedangkan kata “di dalam Dia ”
mau menegaskan kepada kita: bukan
di luar Dia, bukan pula dekat,
tapi hidup bersatu dengan Dia .

Tak ada yang dapat berdiri kokoh tanpa pondasi yang kuat dan kokoh. {F. H24}.

pin bb

Selasa, 24 April 2012

jalan hidup

Hidup ku
Kini aku terbaring tak berdaya karena penyakit yang aku alami sekarang ini entah mualai dari mana mulanya penyakit ini datangnya. Aku dibuatnya tak berdaya karnanya, banyak sudah pengobatan yang saya datangi tapi tak ada kemajuan dalam penyembuhan saya, saya pun jadi kuatir jadinya bagai mana kalau ini seterusnya tak terbayang oleh ku.
Kini yang menjadi harapan ku adalah kepada Dia sang pencipta lagi maha penyanyang dialah Yesus Tuhan kita. Banyak hal yang ditawarkan kepadaa ku dalam jalan pengobatan dari medis maupun dari pengobatan tradisional sampai kepada yang namanya dukun atau nama trennya (paranormal). Tetapi tak ada kemajuan maka saya hanya berpegang pada janji kasih Yesus yang tak akan membiarkan  hambanya jatuh kelembah kesengsaraan yang berkepanjangan. Hanya janji-janjiNyalah yang menjadi batu kekuatanku untuk menjalani kehidupan ini.

 Banyak cobaan dan godaan yang datang silih berganti tapi Allah lah yang kasih yang selalu menguatkan iman dan ketaqwaan ku di dalam Dia yang hidup. Mungkin dengan keadaanku yang sekarang ini aku jadi lebih banyak menulis tentang Dia dan membesarkan namaNya melalu pemberitan yang aku sampaikan ini. Hudup ini ibarat bunga yang mekar dipagi hari dan layu di sore hari, maka untuk apa kita bersusah payah mencari harta dunia yang babis dimakan ngengat dan karat, marilah kita menghabiskan sisa hidup ini untuk memuliakan namaNya yang Masyur dan ajaib. Karena seperti perampoklah ia datang tak diduga dan tak disangka karena tuan rumah itu tak menduga akan kedatangannya maka habislah seisi rumah itu, maka marilah kita berjaga-jaga dan mempersipkan diri untuk menyambut kedatangannya dengan berbekal firmanNya. Hiduplah dalam kasih setiaNya maka kamu akan menemukan kedamaian iman dan hidup tentram dalam sayap lindungan kasihNya. Amin……

Selasa, 17 April 2012

Keadaan di sorga


Sorga adalah tempat yang nyata yang digambarkan dalam Alkitab. Kata “sorga” ditemukan 276 kali di dalam Perjanjian Baru sendiri. Alkitab menunjuk kepada tiga sorga. Rasul Paulus “diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga,” tetapi dia dilarang untuk menyingkapkan apa yang dia alami di sana (2 Korintus 12:1-9).

Kalau ada sorga ketiga, maka pasti ada dua sorga yang lain. Yang pertama adalah yang paling sering disebut dalam Perjanjian Lama sebagai “langit” atau “cakrawala.” Ini adalah sorga yang terdiri dari awan-awan, tempat di mana burung-burung terbang. Sorga yang kedua adalah angkasa luar, yang adalah tempat bintang-bintang, planet-planet, dan benda-benda angkasa lainnya (Kejadian 1:14-18).

Sorga ketiga, tempat yang tidak disingkapkan, adalah tempat kediaman Allah. Yesus berjanji untuk menyediakan tempat bagi orang Kristen yang sejati di sorga (Yohanes 14:2). Sorga juga adalah tujuan orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama yang mati dan percaya akan janji Allah tentang Penebus (Efesus 4:8). Siapa saja yang percaya kepada Kristus tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Rasul Yohanes mendapat kehormatan untuk melihat dan melaporkan mengenai kota sorgawi (Wahyu 21:10-27). Yohanes menyaksikan bahwa sorga (bumi yang baru) penuh dengan “kemuliaan Allah” (Wahyu 21:11), kehadiran Allah. Karena sorga tidak ada malam dan Tuhan sendiri adalah terang, matahari dan bulan tidak lagi diperlukan (Wahyu 22:5).

Kota itu dipenuhi dengan kilauan batu yang berharga dan permata kristal yaspis. Sorga memiliki dua belas pintu gerbang (Wahyu 21:12) dan dua belas batu dasar (Wahyu 21:14). Firdaus Taman Eden akan dipulihkan: sungai air kehidupan mengalir keluar dengan bebas dan pohon kehidupan kembali tersedia, menghasilkan buah tiap bulan sekali dengan daun-daun yang “menyembuhkan bangsa-bangsa” (Wahyu 22:1-2). Bagaimanapun indahnya Yohanes dalam penggambarannya tentang sorga, realita sorga adalah melampaui kemampuan manusia yang terbatas untuk melukiskannya (1 Korintus 2:9).

Sorga adalah tempat “tidak lagi.” Tidak akan ada lagi air mata, tidak ada lagi kesakitan, dan tidak ada lagi penderitaan (Wahyu 21:4). Tidak akan ada lagi pemisahan, karena kematian akan ditaklukkan (Wahyu 20:6). Hal yang terbaik mengenai sorga adalah kehadiran Tuhan dan Juruselamat kita (1Yohanes 3:2). Kita akan berhadapan muka dengan muka dengan Domba Allah yang mengasihi kita dan telah mengorbankan Diri-Nya sendiri supaya kita dapat menikmati kehadiran-Nya dalam sorga untuk selama-lamanya.

HARAPAN


Segala perkara dapat kutanggung didalam Dia yang memberi kekutan kepadaku
Flp 4:13

Hidup ini indah dan menyenangkan bila selalu bersama Yesus, Dialah allah yang kekal yang selalu mengasihi umatNya yang taat kepada firmanNya.
Awalnya saya adalah orang yang senang dengan berbagai kesenangan dunia ini namun dikala ini saya jatuh kedalam masalah yang membuat saya jatuh sakit, penyakit yang saya derita emang agak unik dan diluar rasio manusia.
Saya yang dulu cukup lumayan  ya …cukup rajin ke gereja dan segala perkumpulan yg menyangkut keimanan saya cukup aktif, karena saya juga salah satu aktifis didalam gereja. Tetapi yang namanya manusia emang tak terlepas dari jerat dunia ini. Banyak yang menjadi cobaan rayu dan tipu muslihat dunia  karena lemahnya iman maka saya terseret kedalamnya. Tetapi setelah saya resapi ternyata saya sudah jauh dari kebenaran kasih setia Tuhan kita Yesus Kristus, yang membuat saya goyah dan terjerat dunia ini.
Benar kata orang iblis itu hanya merayu dan tidak ada paksaan kepada kita mangkanya kita tertipu olehnya. Setelah kita jatuh dan menjadi miliknya maka kita akan enggan untuk kembali karena makin dalam ia menipu kita dan memperdaya jiwa kita, maka setelah saya jatuh saya tersadar oleh iman yang masih tersisa sehingga saya berbalik kepada Dia yang telah menyelamatkan dunia ini oleh karena dosa, firmanNya menyatakan bahwa Dia datang untuk menyelamatkan orang-orang yang berdosa, jadi Yesus datang bukan untuk menyelamatkan mereka yang menyatakan diri tidak berdosa.
Saya yang dalam keadaan sakit sekarang hanyalah berharap kasih kemurahan Tuhan kita Yesus agar semua penyakit yang saya derita disembuhkan dan saya terselamatkan oleh karena kasihNya.


Allah berkata , sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau,dan sebelum engkau keluar dari dlam kandungan, Aku telah menguduskan engkau.
Yeremia : 1;5

Rabu, 04 April 2012

MENGASIHI ISTRI


\“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Efesus 5:25
Menjadi seorang suami yang baik di dalam Kristus merupakan suatu keharusan bagi setiap laki-laki yang telah menikah. Karena suami adalah kepala dari isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat (Efesus 5:23).
Jadi kalau Firman Tuhan menyamakan suami seperti Kristus yang adalah kepala jemaat, maka tentunya seorang suami harus bersikap sama seperti Kristus kepada jemaatNya.
*courtesy of PelitaHidup.com
Jika hal ini tidak dipenuhi, maka sudah dapat dipastikan hubungan antara suami dan isteri akan ada kerenggangan bahkan keributan.
Hanya Kristus yang dapat menjadi penyelamat hubungan antara suami dan isteri. Dan hanya Kristus yang dapat memberi keharmonisan bagi hubungan suami dan isteri.
Kali ini kita akan melihat beberapa tanggung jawab yang harus dijalankan oleh seorang suami menurut Firman Tuhan:

1. Mengasihi Isteri Seperti Mengasihi Diri Sendiri

Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.” Efesus 5:28
Sebagian besar kaum laki-laki memiliki ego yang cukup tinggi atau bahkan sangat tinggi. Mereka cenderung untuk lebih mengutamakan dirinya sendiri dalam segala hal, bahkan juga di dalam keluarganya.Firman Tuhan mengajarkan agar seorang suami dapat mengasihi isterinya sama seperti mengasihi dirinya sendiri. Apa yang diinginkan seorang suami bagi dirinya juga harus dia berikan seimbang kepada isterinya.Tentunya hal ini bukan suatu hal yang mudah. Tetapi dengan meminta kasih Kristus, maka hal ini akan dapat dilakukan oleh seorang suami.
*courtesy of PelitaHidup.com
.

2. Jangan Berlaku Kasar

Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Kolose 3:19

Ketika masih berpacaran, tentunya akan sangat mudah untuk bersikap sopan dan lembut kepada pasangan. Hal ini disebabkan kita mau memberikan yang terbaik bagi pacar dan tidak mau terlihat buruk/negatif di hadapannya.
*courtesy of PelitaHidup.com

Tetapi ketika masuk ke dalam pernikahan, biasanya semua sikap aslinya akan keluar. Banyak pasangan suami-isteri yang kaget melihat pasangannya, yang sebelumnya merupakan orang yang paling lembut sedunia, ternyata merupakan orang yang paling kasar sedunia. Tentunya hal ini bertentangan dengan Firman Tuhan.
Seorang suami harus belajar menghargai isterinya. Tidak hanya pada awal pernikahan saja, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, seorang suami harus semakin lembut terhadap isterinya. Dia harus belajar mengerti perasaan isterinya. Dia harus belajar untuk bersikap lebih sabar terhadap isterinya. Dia harus belajar untuk mendengar suara isterinya.
Suami harus menghargai perkataan dari isterinya. Suami juga harus sabar jika isterinya melakukan kesalahan. Bersikap lembutlah terhadap isteri.
*courtesy of PelitaHidup.com
.

3. Hidup Bijaksana Dengan Isteri

Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” 1Petrus 3:7
Seorang suami dengan posisi, kedudukan, status, pengetahuan dan jabatan yang lebih tinggi tidak boleh meremehkan isterinya. Bagaimanapun keadaan isteri, tetap harus dihargai karena isteri merupakan pasangan yang telah Tuhan tetapkan. Jangan menganggap remeh isteri, jangan mengabaikan isteri dan jangan mencemooh isteri, agar doa seorang suami tidak terhalang.
Tuhan menginginkan kesatuan di dalam rumah tangga. Suami harus berperan aktif agar kesatuan itu dapat terjalin di dalam rumah tangganya. Dengan begitu berkat dari Tuhan akan mengalir seperti sungai yang tidak pernah kering.
Hiduplah bergandengan tangan dengan isteri, maka Tuhan akan mendengar doa sang suami.
Dan bagi isteri yang suaminya belum dapat bersikap sesuai dengan Firman Tuhan, tetaplah berdoa dan tetaplah kasihilah suamimu. Maka Tuhan akan mendengar dan melihat tindakanmu, sehingga Dia akan menjamah dan mengubahkan hati suamimu. Haleluya!
.
“…Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!
Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!
Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!
Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.
Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu,
dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!” Mazmur 128:1-6

Rabu, 20 Juli 2011

Iman

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (Ibrani 11:6).
Sebagai orang percaya, iman kita dibangun di atas fondasi keberadaaan Allah, dan perlakuanNya terhadap orang yang mencariNya berbeda dengan perlakuanNya terhadap orang yang tidak mencariNya. Segera setelah benar-benar mempercayai kedua hal itu, kita mulai menyenangkan Allah, karena kita segera mencariNya. Makna dari mencari Allah adalah (1) mempelajari kehendakNya, (2) menaatiNya, dan (3) percaya janji-janjiNya. Ketiga makna itu hendaknya menjadi komponen perjalanan kita sehari-hari.
Bab ini berfokus pada perjalanan iman kita. Tetapi, banyak orang hanya mengutamakan iman pada titik ekstrim yang tidak Alkitabiah, terutama mengutamakan kemakmuran materi. Karena itulah, sebagian orang ingin sekali melakukan pendekatan kepada pokok masalah itu. Hanya karena beberapa orang tenggelam di sungai bukanlah alasan kita untuk berhenti minum air. Kita bisa tetap bersikap seimbang dan mengutamakan Alkitab. Alkitab memiliki banyak hal untuk diajarkan mengenai pokok persoalan di atas, dan Allah ingin kita untuk menguji iman kita dalam banyak janjiNya.
Yesus memberi contoh orang yang beriman kepada Allah, dan Ia mengharapkan murid-muridNya untuk meneladaniNya. Demikian juga, pelayan pemuridan harus berupaya untuk menjadi teladan kesetiaan dalam Tuhan, dan mengajarkan murid-muridnya untuk percaya kepada janji-janji Tuhan. Hal ini sangat penting. Kita mustahil menyenangkan Allah tanpa iman, dan juga mustahil menerima jawaban doa-doa tanpa iman (lihat Matius 21:22; Yakobus 1:5-8). Alkitab jelas mengajarkan bahwa orang yang ragu-ragu takkan mendapat berkat-berkat yang diterima oleh orang percaya. Yesus berkata, “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” (Markus 9:23).

Definisi Iman

Definisi iman menurut Alkitab terdapat dalam Ibrani 11:1:
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Dari definisi itu, kita pelajari beberapa karakter iman. Pertama, orang beriman mendapatkan jaminan atau kepercayaan diri. Iman berbeda dengan pengharapan, karena iman adalah “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan.” Pengharapan selalu memberi peluang kepada keraguan. Pengharapan selalu berkata “semoga.” Misalnya, saya dapat berkata, “Saya harap hari ini hujan sehingga kebunku akan terairi.” Saya ingin hujan turun, tetapi saya tidak yakin apakah hari ini hujan akan turun. Di lain pihak, iman selalu yakin, “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan.”
Hal yang disebut sebagai iman atau keyakinan sering bukanlah iman menurut definisi Alkitab. Misalnya, orang mungkin memperhatikan awan gelap di langit, dan berkata, “Saya percaya hari ini hujan akan turun.” Tetapi, ia tidak yakin pasti bahwa hujan akan turun —ia hanya berpikir ada peluang besar hujan mungkin akan turun. Ini bukanlah iman menurut Alkitab. Iman menurut Alkitab tidak mengandung unsur keraguan. Iman tak memberikan ruang bagi hasil apapun selain hal yang Tuhan sudah janjikan.

Iman adalah Bukti dari Segala Sesuatu yang Tidak Kita Lihat 

Definisi dalam Ibrani 11:1 juga menyatakan bahwa iman adalah “bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Dengan demikian jika kita bisa lihat sesuatu atau rasakan dengan panca indera kita, maka iman tidak diperlukan.
Jika seseorang berkata, “Karena beberapa alasan yang tak dapat saya jelaskan, saya beriman bahwa ada buku di tangan anda.” Anda tentu berpikir ada sesuatu yang tak beres dengan orang itu. Anda katakan, “Anda tak perlu percaya bahwa saya memegang buku di tangan saya, karena anda dapat melihat saya yang sedang memegang buku.”
Iman bukanlah wilayah yang tak terlihat. Misalnya, ketika saya menulis kata-kata ini, saya percaya ada malaikat di dekat saya. Nyatanya, saya yakin akan hal itu. Bagaimana saya bisa begitu yakin? Apakah saya telah melihat malaikat? Tidak. Apakah saya telah merasakan atau mendengar malaikat terbang melintas? Tidak. Jika saya telah melihat, mendengar atau merasakan ada malaikat, maka saya tak harus percaya ada malaikat di dekat saya —saya tahu hal itu.
Jadi apa yang membuat saya sangat yakin akan kehadiran malaikat? Keyakinanku berasal dari salah satu janji Allah. Dalam Mazmur 34:8, Ia berjanji, “Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.” Saya tidak punya bukti untuk kepercayaan saya selain Firman Tuhan. Inilah iman sejati menurut Alkitab —“bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Orang-orang di dunia sering memakai ungkapan, “Lihat dulu baru percaya.” Tetapi dalam kerajaan Allah, berlaku hal sebaliknya: “Percaya dulu baru melihat.”
Saat kita imani salah satu janji Allah, seringkali muncul keadaan yang menggoda kita untuk merasa ragu, atau kita melewati waktu ketika keadaan tampak seolah-olah Allah tak memenuhi janjiNya karena keadaan kita tak berubah. Dalam keadaan demikian, kita perlu melawan rasa ragu, menjaga dengan iman, dan tetap yakin di dalam hati bahwa Allah selalu memenuhi janjiNya. Tak mungkin Allah berdusta (lihat Titus 1:2).

Cara Kita Mendapatkan Iman 

Karena iman didasarkan pada janji-janji Allah, hanya ada satu sumber untuk iman yang Alkitabiah --Firman Tuhan. Roma 10:17 berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17, tambahkan penekanan). Firman Tuhan mengungkapkan kehendakNya. Hanya dengan mengetahui kehendak Tuhan, kita dapat mempercayainya.
Jadi, jika anda ingin memiliki iman, dengarkan (atau bacalah) janji-janji Allah. Iman tidak datang hanya dengan berdoa dan berpuasa untuk mendapatkannya, atau menyuruh orang menumpangkan tangan bagi anda untuk memindahkan iman itu. Iman hanya datang dari pendengaran akan Firman Tuhan, dan di saat anda mendengarnya, anda masih harus membuat keputusan untuk mempercayainya.
Di luar konteks mendapatkan iman, iman kita dapat juga tumbuh makin kuat. Alkitab menyebutkan berbagai tingkatan iman —dari iman yang kecil kepada iman sebesar memindahkan gunung. Iman bertumbuh makin kuat ketika dipupuk dan diterapkan, seperti halnya otot manusia. Kita harus terus memupuk iman kita dengan merenungkan Firman Tuhan. Kita harus terapkan iman dengan bertindak dan bereaksi terhadap segala sesuatu sesuai Firman Tuhan. Ini termasuk saat-saat ketika kita menghadapi berbagai masalah, kekuatiran dan kegelisahan. Allah tidak ingin anak-anakNya kuatir tentang apapun, tetapi sebaliknya mempercayakanNya dalam setiap situasi (lihat Matius 6:25-34; Filipi 4:6-8; 1 Petrus 5:7). Tidak kuatir adalah satu cara agar kita dapat menerapkan iman kita.
Jika kita benar-benar percaya perkataan Allah, kita akan bertindak dan berbicara seolah-olah perkataan itu benar. Jika anda percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, maka anda akan bertindak dan berbicara seperti itu. Jika anda percaya bahwa Allah akan menyediakan semua keperluan anda, anda akan bertindak dan berbicara seperti itu. Jika anda percaya bahwa Allah mau anda tetap sehat, anda akan bertindak dan berbicara seperti itu. Alkitab berisi banyak contoh orang yang, di tengah keadaan tak menyenangkan, bertindak dengan imannya kepada Allah dan akibatnya mereka mengalami mujizat. Kita perhatikan beberapa contoh dalam bab ini dan bab tentang kesembuhan ilahi. (Untuk beberapa contoh, lihat 2 Raja-Raja 4:1-7; Markus 5:25-34; Lukas 19:1-10; dan Kisah Para Rasul 14:7-10).

Iman berasal dari Dalam Hati 

Iman menurut Alkitab tak berfungi di dalam pikiran kita, tetapi di dalam hati kita. Paulus menuliskan, “Karena dengan hati orang percaya” (Roma 10:10a). Yesus berkata,
Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. (Markus 11:23, tambahkan penekanan).
Sangat mungkin anda merasa ragu tetapi masih beriman di dalam hati dan menerima janji-janji Allah. Ternyata, sebagian besar waktu ketika kita berupaya mempercayai janji-janji Allah, maka pikiran kita akan diserang rasa ragu, dengan pengaruh panca-indera kita dan kebohongan Setan. Selama melewati waktu itu kita perlu mengganti pikiran yang meragukan janji-janji Allah dan beriman teguh tanpa pikiran yang terombang-ambing.

Kekeliruan Iman yang Lazim Terjadi

Kadang-kadang ketika kita mencoba menerapkan iman kepada Allah, kita gagal menerima apa yang kita inginkan karena kita tidak memfungsikan iman menurut Firman Tuhan. Salah satu kekeliruan yang paling lazim muncul terjadi ketika kita mencoba mempercayai sesuatu yang Allah belum janjikan kepada kita.
Misalnya, tindakan suami-istri yang percaya kepada Allah yang sanggup memberi anak adalah sesuai Alkitab, karena Firman Tuhan berisi janji yang olehnya mereka dapat tetap bertahan. Saya kenal pasangan suami-istri yang, menurut dokter, tak akan bisa punya anak. Tetapi, mereka memilih percaya kepada Allah, dan berdiri atas dua janji yang disebutkan di bawah ini, dan kini keduanya memiliki anak-anak yang sehat:
Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu. Tidak akan ada di negerimu perempuan yang keguguran atau mandul. Aku akan menggenapkan tahun umurmu. (Keluaran 23:25-26).
Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa: tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di antaramu, ataupun di antara hewanmu. (Ulangan 7:14).
Janji-janji itu pasti memberi dorongan kepada pasangan yang belum punya anak! Tetapi, mencoba percaya secara khusus akan mendapatkan anak adalah kisah lainnya. Dalam Alkitab tidak ada janji khusus yang menyatakan kepada kita sehingga kita dapat menentukan jenis kelamin anak nanti. Kita harus tetap di dalam batas-batas Alkitab jika kita mau iman kita dapat berfungsi. Kita hanya mempercayai Allah untuk mendapatkan janjiNya kepada kita.
Perhatikan janji Firman Tuhan, lalu tentukan keyakinan kita berdasarkan janji itu:
Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit. (1 Tesalonika 4:16)
Berdasarkan ayat itu, kita percaya bahwa Yesus akan kembali.
Tetapi, dapatkah kita berdoa, meyakini bahwa Yesus akan kembali besok hari? Tidak, karena penegasan ayat Alkitab di atas dan tak ada janji lain dalam Alkitab bagi kita. Nyatanya, Yesus berkata bahwa tak seorangpun tahu hari dan jam kedatanganNya.
Sudah tentu, kita dapat berdoa sambil berharap Yesus akan kembali besok, tetapi tak ada jaminan hal itu akan terwujud. Ketika berdoa dengan iman, yakinlah apa yang kita doakan akan terjadi karena kita memiliki janji Allah atas iman kita.
Berdasarkan ayat Alkitab yang sama, kita percaya bahwa tubuh setiap orang percaya yang telah meninggal akan dibangkitkan kembali ketika Yesus datang. Tetapi bisakah kita beriman sehingga kita, yang masih hidup ketika Kristus kembali, akan menerima tubuh yang dibangkitkan kembali di saat yang sama dengan yang diterima oleh “orang-orang yang mati dalam Kristus”, atau mungkin bahkan sebelum mereka terima? Tidak, karena ayat Alkitab itu menjanjikan hal berbeda: “orang-orang yang mati dalam Kristus akan bangkit lebih dulu.” Nyatanya, ayat berikut berkata, “sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.” (1 Tesalonika 4:17). Jadi, “orang-orang yang mati dalam Kristus” akan menjadi yang pertama yang menerima tubuh yang dibangkitkan kembali ketika Yesus kembali. Firman Tuhan menjanjikan demikian.
Jika kita percaya Allah untuk mendapatkan sesuatu, kita harus yakin kehendak Tuhan bagi kita untuk menerima apa yang kita mau. Kehendak Tuhan hanya dapat ditentukan dengan menguji janji-janjiNya yang terdapat dalam Alkitab.
Iman bekerja dengan cara yang sama dalam ranah alami. Anda akan dianggap bodoh bila percaya bahwa saya akan berkunjung ke rumah anda besok siang jika saya belum berjanji untuk melakukan kunjungan itu.
Iman, tanpa janji sebagai panutan, bukanlah iman —itu kebodohan. Jadi, sebelum anda minta sesuatu dari Allah, tanya diri anda dahulu —ayat mana dalam Alkitab yang memberikan janji kepada saya tentang apa yang saya inginkan? Jika anda tidak memiliki janji, maka anda tak punya dasar atas iman anda.

Kesalahan Umum Kedua 

Banyak kali orang Kristen mencoba mempercayai salah satu janji Allah agar menjadi nyata dalam kehidupannya tanpa memenuhi semua syarat yang menyertai janji itu. Misalnya, saya mendengar ada orang Kristen yang mengutip Mazmur 37 dan berkata: “Alkitab berkata bahwa Allah akan memberikan kepadaku apa yang diinginkan hatiku. Itulah yang kupercayai.”
Tetapi, Alkitab tidak hanya berkata bahwa Allah akan memenuhi keinginan hati kita. Berikut ini perkataan sebenarnya:
Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak. (Mazmur 37:1-5).
Beberapa syarat harus dipenuhi jika kita percaya bahwa Allah akan memenuhi keinginan hati kita. Faktanya, saya hitung ada delapan syarat dalam janji di atas. Jika tidak memenuhi syarat-syarat itu, kita tak berhak menerima berkat yang dijanjikan. Iman kita tak memiliki dasar.
Orang Kristen juga suka mengutip janji dalam Filipi 4:19: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Tetapi, apakah ada persyaratan terhadap janji itu? Sudah pasti.
Jika anda periksa konteks janji dalam Filipi 4:19, anda akan temukan bahwa bukanlah janji yang diberikan kepada semua orang Kristen. Sebaliknya, janji itulah yang disampaikan kepada orang Kristen yang adalah pemberi itu sendiri. Paulus tahu Allah akan memenuhi semua kebutuhan jemaat Filipi karena mereka baru saja mengirimkannya persembahan. Karena mereka mencari lebih dahulu Kerajaan Allah seperti perintah Yesus, Allah akan memenuhi semua kebutuhan mereka, seperti janji Yesus (lihat Matt 6:33). Banyak janji dalam Alkitab, terkait dengan tindakan Allah dalam memenuhi kebutuhan materi kita, memberikan syarat agar kita lebih dulu menjadi orang yang suka memberi.
Tidaklah patut kita berpikir bahwa kita mempercayai Allah demi memenuhi kebutuhan kita jika kita tidak menaati perintah-perintahNya dalam hal uang kita. Sesuai perjanjian lama itu, Allah berkata kepada umatNya bahwa mereka dikutuk karena menahan perpuluhan, tetapi Ia berjanji kepada mereka jika mereka taat memberi perpuluhan dan persembahan (lihat Maleakhi 3:8-12).
Banyak berkat yang dijanjikan bagi kita dalam Alkitab tergantung pada ketaatan kita kepada Allah. Karena itu, sebelum kita mempercayai Allah untuk mendapatkan sesuatu, kita lebih dulu harus bertanya: “Apakah saya memenuhi syarat yang menyertai janji itu?”

Kesalahan Umum Ketiga 

Dalam Perjanjian Baru, Yesus menyatakan syarat yang berlaku setiap kali kita berdoa dan memohonkan sesuatu:
Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. (Markus 11:22-24, tambahkan penekanan).
Syarat yang Yesus nyatakan adalah keyakinan bahwa kita telah menerima ketika kita berdoa. Banyak orang Kristen keliru mencoba menerapkan imannya dengan meyakini bahwa mereka telah menerima ketika mereka melihat jawaban atas doa mereka. Mereka percaya akan menerima dan bukannya mereka telah menerima.
Ketika kita meminta sesuatu dari Allah yang telah dijanjikanNya kepada kita, kita harus percaya kita menerima jawaban ketika kita berdoa dan mulai mengucap syukur kepada Tuhan atas jawaban doa nanti. Kita harus percaya bahwa kita telah mendapat jawaban sebelum kita melihatnya dan bukan setelah kita melihatnya. Kita harus memohon kepada Allah dengan ucapan syukur, seperti yang ditulis oleh Paulus:
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6).
Seperti saya sebutkan sebelumnya, jika kita beriman di dalam hati, biasanya kata-kata dan tindakan kita akan selaras dengan keyakinan kita. Yesus berkata, “…. yang diucapkan mulut meluap dari hati.” (Matius 12:34).
Beberapa orang Kristen melakukan kesalahan dengan berkali-kali meminta hal yang sama, yang mengungkapkan mereka belum percaya bahwa mereka telah menerima. Jika kita percaya bahwa kita telah menerima ketika kita berdoa, maka tak perlu mengulang-ulang permohonan yang sama. Meminta berkali-kali untuk hal yang sama adalah wujud keraguan bahwa Allah mendengarkan kita ketika pertama kali kita meminta.

Tidakkah Yesus Melakukan Permohonan yang Sama Lebih dari Sekali?

Yesus tentu saja membuat permohonan yang sama tiga kali dalam satu waktu ketika Ia berdoa di Taman Getsemani (lihat Matius 26:39-44). Ingat bahwa Ia tidak berdoa dalam iman menurut kehendak Allah. Nyatanya, ketika Ia berdoa tiga kali untuk mendapatkan kesempatan demi menghindari penyaliban, Ia tahu permohonanNya berbeda dengan kehendak Tuhan. Itu sebabnya Ia menyerahkan diriNya kepada kehendak BapaNya tiga kali dalam doa yang sama.
Doa yang sama dari Yesus sering digunakan secara keliru sebagai model bagi semua doa, seperti diajarkan oleh sebagian orang bahwa kita harus selalu mengakhiri setiap doa dengan kata-kata, “Jika itu kehendakMu”, atau “Bukan kehendakKu tetapi kehendakMu yang jadi”, mengikuti teladan Yesus.
Jadi harus diingat bahwa Yesus membuat permohonan yang, Dia tahu, bukan kehendak Allah. Mengikuti teladanNya itu ketika kita berdoa menurut kehendak Tuhan adalah keliru dan menunjukkan kurangnya iman. Misalnya, untuk berdoa, “Tuhan, saya mengaku dosa kepadaMu dan memohon Engkau mengampuni saya jika itu kehendakMu”, berarti bahwa hal itu bisa saja bukan kehendak Tuhan untuk mengampuni dosa saya. Sudah tentu, kita tahu bahwa Alkitab berjanji bahwa Allah akan mengampuni jika kita mengaku dosa-dosa kita (lihat 1 Yohanes 1:9). Jadi, dosa itu mengungkapkan kurangnya iman seseorang kepada kehendak Allah.
Yesus tidak mengakhiri setiap doa dengan kata-kata, “Tetapi bukan kehendakKu, tetapi kehendakMu yang jadi.” Hanya ada satu contoh doaNya dengan cara itu, dan ketika Ia Sendiri berkomitmen untuk melakukan kehendak BapaNya, dan tahu penderitaan yang Ia jalani oleh karena itu.
Di lain pihak, bila kita tidak tahu kehendak Tuhan dalam situasi tertentu karena Ia belum mengungkapkannya, maka kata-kata yang layak untuk mengakhiri doa kita, “Jika itu kehendakMu.” Yakobus menulis,
Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. (Yakobus 4:13-16).
Apa yang harus kita lakukan ketika kita buat permohonan sesuai janji Tuhan dan memenuhi semua syarat? Kita harus terus bersyukur kepada Tuhan atas jawaban yang kita yakin telah kita terima sampai hal itu terwujud. Melalui iman dan kesabaran kita mewarisi janji-janji Allah (Ibrani 6:12). Setan tentunya coba mengalahkan kita dengan mengirimkan keraguan, dan kita harus sadari bahwa pikiran kita adalah medan perang. Ketika perasaan ragu menyerang pikiran kita, kita perlu menggantinya dengan pikiran berdasarkan janji-janji Allah dan menyebut Firman Tuhan dengan iman. Ketika kita lakukan, Setan pasti lari (lihat Yakobus 4:7; 1 Petrus 5:8-9).

Contoh Iman yang Bekerja 

Contoh klasik dalam Alkitab tentang iman yang bekerja adalah kisah Petrus berjalan di atas air. Kita baca kisahnya dan pahami pelajaran apa yang didapa dari kisah itu.
Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri . Ketika hari sudah malam, Ia sendiri an di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." (Matius 14:22-33).
Perlu dicatat, suatu waktu murid-murid Yesus dalam perahu terjebak oleh badai angin di Danau Galilea (lihat Matius 8:23-27). Selama kejadian itu, Yesus sudah bersama-sama dengan mereka, dan setelah Ia menenangkan badai angin dengan hardikanNya, Ia lalu menegur murid-muridNya karena tidak punya iman. Sebelum mereka memulai perjalanan, Ia telah berkata bahwa Ia mau mereka untuk menyeberang ke sisi lain di danau itu (lihat Markus 4:35). Tetapi, ketika angin ribut muncul, mereka lebih yakin akan keadaan-keadaan sekitar, dan pada satu titik mereka yakin mereka akan segera mati. Paling kurang, Yesus mengharapkan mereka untuk tidak kuatir.
Tetapi, kali ini Yesus mengutus mereka melintasi Danau Galilea. Tentu Ia dipimpin oleh Roh untuk melakukan demikian, dan pasti Allah tahu bahwa malam itu akan muncul angin yang menghadang perahu mereka. Jadi Tuhan izinkan mereka menghadapi tantangan kecil bagi iman mereka. Karena hadangan angin itu, perjalanan yang biasanya ditempuh dalam beberapa jam memakan waktu semalam penuh. Kita harus akui daya-tahan murid-murid, tetapi kita heran jika salah seorang dari mereka memiliki iman untuk meredakan angin ribut, satu hal yang telah mereka lihat ketika Yesus melakukannya beberapa hari sebelumnya. Yang menarik, Injil Markus menulis bahwa ketika Yesus datang berjalan di atas air ke arah mereka, “Ia hendak melewati mereka” (Markus 6:48). Ia hampir meninggalkan mereka sehingga mereka menghadapi masalah sendiri ketika secara ajaib Ia mengikuti mereka! Dengan begitu, tampaknya mereka tidak berdoa atau mencari Allah. Saya heran berapa kali Sang Pembuat-Mujizat mengikuti kita ketika kita bersusah payah mengayuh dayung kehidupan melawan angin kesukaran.

Prinsip-prinsip Iman

Yesus menjawab tantangan Petrus dengan satu kata: “Kemarilah.” Jika Petrus berusaha berjalan di atas air sebelum perkataan itu, ia pasti langsung tenggelam, karena ia tak punya janji sebagai dasar imannya. Ia mungkin melangkah dengan praduga bukannya dengan iman. Demikian juga, bahkan setelah Yesus melontarkan ucapanNya, bila murid lainnya mungkin mencoba berjalan di atas air, ia juga pasti segera tenggelam, ketika Yesus memberikan janjiNya hanya kepada Petrus. Tak satupun dari mereka bisa memenuhi syarat dari janji tersebut, karena tak satupun dari mereka adalah Petrus. Demikian juga, sebelum kita mempercayai salah satu janji Allah, yakinlah bahwa janji itu berlaku bagi kita dan kita memenuhi syarat janji itu.
Petrus keluar dari perahu dan berjalan di atas air. Saat itulah ia percaya, walaupun dia berteriak karena takut melihat hantu beberapa detik sebelumnya, juga dia ragu-ragu ketika ia mengambil langkah pertama. Tetapi untuk menerima mujizat, ia harus bertindak dengan imannya. Seandainya ia memegang tiang perahu dan menurunkan ujung kakinya ke samping perahu untuk mengetahui apakah air dapat menahan berat tubuhnya, ia tak akan pernah mengalami mujizat. Demikian juga, sebelum kita menerima mujizat, kita harus benar-benar percaya kepada janji Allah pada satu saat, lalu bertindak atas apa yang kita yakini. Ada saatnya iman kita diuji. Terkadang waktu itu singkat; terkadang lama. Tetapi akan ada saatnya ketika kita harus mengesampingkan akal pikiran kita dan bertindak dengan Firman Tuhan.
Petrus mulanya berjalan maju dengan baik. Tetapi ketika ia berpikir kemustahilan dari apa yang sedang dilakukannya, dengan melihat angin dan ombak, ia jadi takut. Mungkin ia berhenti berjalan, takut membuat langkah berikut. Dan barangsiapa yang telah mengalami mujizat mendapati dirinya sedang tenggelam. Kita harus tetap teguh dalam iman ketika kita sudah memulainya, dengan bertindak di atas iman kita. Tetaplah maju.
Petrus tenggelam karena ia ragu. Seseorang sering tak suka menyalahkan dirinya sendiri karena kurangnya iman. Sebaliknya ia menyalahkan Tuhan. Tetapi bagaimana, menurut anggapan anda, reaksi Yesus jika Ia mendengarkan Petrus, ketika ia kembali dengan aman ke dalam perahu, dengan berkata kepada murid-murid lain, “Sungguh hanya oleh kehendak Tuhan bagiku untuk menempuh setengah jarak ke arah Yesus”?
Petrus gagal karena ia menjadi takut dan kehilangan imannya. Itu faktanya. Yesus tidak mengecamnya, tetapi segera mengulurkan tanganNya untuk memberi pegangan yang teguh. Dan Ia segera bertanya kepada Petrus mengapa ia ragu. Petrus tak punya alasan untuk ragu, karena Firman dari Anak Tuhan lebih pasti dari apapun. Kita tak pernah punya alasan yang tepat untuk meragukan Firman Tuhan, merasa takut atau kuatir.
Alkitab penuh dengan contoh kemenangan sebagai hasil dari iman dan kegagalan sebagai hasil dari keraguan. Yosua dan Kaleb menduduki Tanah Perjanjian oleh karena iman mereka selagi sebagian besar orang sezaman mereka mati di padang belantara oleh karena keraguan mereka (lihat Bilangan 14:26-30). Murid-murid Yesus mendapat pasokan kebutuhan ketika mereka pergi berdua-dua untuk memberitakan Injil (lihat Lukas 22:35), namun mereka pernah gagal mengusir roh jahat karena tak yakin (lihat Matius 17:19-20). Banyak orang menerima mujizat kesembuhan melalui pelayanan Kristus sedangkan orang-orang sakit di kotaNya Nazareth tidak sembuh karena tidak percaya (lihat Markus 6:5-6).
Seperti mereka semua, saya pribadi mengalami keberhasilan dan kegagalan menurut iman atau keraguan saya. Tetapi saya tidak akan bersedih atas kegagalan saya atau menyalahkan Allah. Saya tak akan membenarkan diri saya dengan mengecamNya. Saya tak akan mencari penjelasan teologis yang rumit untuk menemukan kembali ungkapan kehendak Allah. Saya tahu, mustahil kalau Allah berdusta. Sehingga ketika saya gagal, saya bertobat dari ketidakpercayaan saya dan mulai berjalan di atas air sekali lagi. Saya perhatikan, Yesus selalu mengampuni saya dan menyelamatkan saya agar tidak tenggelam!
Keputusan diambil: orang percaya diberkati; orang ragu tidak diberkati! Pelayan pemuridan mengikuti teladan Yesus. Ia sendiri memiliki iman penuh, dan ia mengingatkan murid-muridnya, “Percayalah kepada Allah!” (Markus 11:22).

Senin, 28 Februari 2011

hati yang berhikmat


Bacaan 1 Raja-Raja 10 : 1-13, Kunjungan ratu negeri Syeba
1.Ketika ratu negeri Syeba mendengar khabar tentang Salomo, berhubung dengan nama Tuhan, maka datanglah ia hendak mengujinya dengan teka-teki. 2. Ia datang ke Yerusalem dengan pasukan pengiring yang sangat besar, dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal. Setelah ia sampai kepada Salomo, dikatakanyalah segala yang ada di dalam hatinya kepadanya. 3. Dan Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi raja tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu. 4. Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya, 5. makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, minumannya dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya  di rumah TUHAN, maka tercengalah ratu itu.
6. Dan ia berkata kepada raja: “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu, 7. tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh setengahnya pun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal  hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar. 8. Berbahagialah para isterimu, berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu ! 9. Terpujilah Tuhan, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel ! Karena Tuhan mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran”. 10. Lalu diberikannyalah  kepada raja seratus dua puluh talenta emas, dan sangat banyak rempah-rempah dan batu permata yang mahal-mahal; tidak pernah datang lagi begitu banyak rempah-rempah seperti yang diberikan ratu negeri Syeba kepada raja Salomo itu.
11. Lagi pula kapal-kapal Hiram, yang mengangkut emas dari Ofir, membawa dari  Ofir sangat banyak kayu cendana dan batu permata yang mahal-mahal. 12. Raja mengerjakan kayu cendana itu menjadi langkan untuk rumah TUHAN dan untuk istana raja, dan juga menjadi kecapi dan gambus untuk para penyanyi; kayu cendana seperti itu tidak datang dan tidak kelihatan lagi sampai hari ini. 13. Raja Salomo memberikan kepada ratu negeri Syeba segala yang dikehendakinya dan yang dimintanya, selain apa yang telah diberikannya kepadanya sebagaimana layak bagi raja Salomo. Lalu ratu itu berangkat pulang ke negerinya bersama-sama dengan pegawai-pegawainya.
*courtesy of PelitaHidup.com
Masa ini  terjadi sekitar pada abad ke enam Sebelum Masehi. Pada masa ini belum ada suatu jaringan alat komunikasi dalam bentuk apapun. Setiap berita yang beredar itu hanya berlangsung dari mulut ke mulut saja.  Berita tentang raja Salomo yang bijaksana yang melayani Allah yang berkuasa ini terdengar dan sampai juga kepada ratu negeri Syeba di daerah Arab Selatan yang jaraknya sangat jauh, yaitu sekitar 1.200 mil letaknya ke arah selatan Yerusalem.
Berita tentang raja Salomo yang begitu bijaksana dan tentang Allah yang disembah oleh Salomo itu menarik perhatian ratu Syeba. Tidak puas hanya mendengar berita tentang raja Salomo yang bijaksana itu maka  ia berketetapan ingin datang berkunjung kepada raja Salomo untuk dapat melihat langsung dan menyaksikakannya sendiri semua berita yang telah ia dengar tersebut.
Waktu yang diperlukan untuk menempuh perjalanan sejauh 1200 mil itu adalah  sekitar 60 hari, kurang lebih selama 2 bulan. Perjalanan panjang yang harus ditempuh ini bukanlah menjadi penghalang bagi ratu Syeba karena hatinya sangat merindukan hikmat. Melalui kisah ratu Syeba ini kita dapat belajar mengenai  betapa berharganya nilai dari hati yang memilki hikmat, nilainya melebihi kekayaan materi, bahkan emas dan permata.
Untuk memiliki hati yang  berhikmat, Ratu Syeba menempuh  tujuh langkah berikut, yaitu:

1. Rindu Mendengar Hikmat

Ia telah mendengar kabar tentang raja Salomo yang berhubungan dengan nama Tuhan,  informasi yang telah ia dengar itu sangat menarik perhatiannya sehingga ia mau datang berkunjung ke istana raja Salomo dan hendak mengujinya dengan teka-teki, (ayat 1).  Pada masa itu Ratu Syeba juga dikenal karena kecantikannya, kekayaan dan kebesarannya yang sangat legendaris. Tampaknya Ratu Syeba sudah  memiliki segalanya, tetapi Ratu Syeba menyadari bahwa semua yang ia miliki itu belum berarti dan bernilai baginya.  Ia belum merasa puas dengan apa yang telah ia peroleh dan yang telah dilakukannya sebagai seorang ratu, karena itu hatinya sangat merindukan hikmat.
Apa yang didengarnya tentang raja Salomo adalah suatu hal yang belum ia ketahui dan perbuat, itu sangat menarik perhatiannya untuk dapat ia miliki. “Telinga yang mendengar dan mata yang melihat, kedua-duanya dibuat oleh Tuhan”, Amsal 20:12. “ Sekalipun ada emas dan permata banyak, tetapi yang paling berharga ialah bibir yang berpengetahuan”, Amsal 20:15.
.

2. Ia Datang dengan Rela Berkorban

Ratu Syeba datang ke Yerusalem dengan pasukan pengiring yang sangat besar, dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal, (ayat 2). Perjalanan dari Arab Selatan menuju Yerusalem dengan membawa rombongan unta untuk melintasi padang pasir sejauh 1200 mil, harus ditepuhnya selama kurang lebih 2 bulan dan dengan biaya yang besar. Namun  hal tersebut tidak menjadi masalah bagi ratu Syeba untuk datang dan melihat sendiri segala kebijaksanaan raja Salomo yang telah didengarnya. Dengan keingintahuan yang sangat tinggi dan kehausannya untuk mencari hikmat ratu Syeba merelakan dirinya untuk menempuh sendiri perjalanan itu.
Persiapan yang matang dilakukan, untuk meninggalkan istananya sendiri dalam waktu yang cukup lama itu, ia  harus  mengatur  segala sesuatu  pelaksanaan tugas di istananya dengan baik. Ratu ini juga mempersiapkan perjalanannya dengan pasukan pengiring yang sangat besar, para pelayanan dan dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal serta kayu-kayu cendana yang berkualitas terbaik.
Bagi ratu Syeba, hikmat  yang hendak ingin diperolehnya itu adalah sebuah kekayaan yang termahal, bagi dirinya  tidak akan  ada usaha dan pengorbanan yang sia-sia  untuk pencarian dan untuk memperoleh hikmat. Ia rela menghabiskan apapun juga untuk memperoleh kekayaan hikmat yang  tak ternilai harganya. Bersama pasukan pengiringnya ia menempuh perjalanan melintasi padang pasir sekitar  2 bulan lamanya. Sekalipun lama perjalanan itu, sekalipun melelahkan, ratu ini telah siap menempuhnya. Ia melakukan pencarian ini bukan untuk sebuah kesenangan yang fana, tetapi untuk suatu tujuan yaitu mencari hikmat yang sejati. “ Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas “, Amsal 16:16.
.

3. Belajar dari Orang yang Bijaksana

Sejumlah pertanyaan tentang kehidupan dan Tuhan telah disiapkan oleh ratu Syeba, supaya dapat  ditanyakan langsung ketika ia berbincang-bincang dengan raja Salomo.  Dan Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi raja tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu, (ayat 3). Semua pertanyaannya yang sulit  telah dijawab oleh raja Salomo dan tentu tidak ada hal yang sukar bagi raja  Salomo. Semua jawaban-jawaban yang diberikan Salomo itu disimak, diperhatikan dan didengarkan oleh ratu Syeba dengan baik.  Ratu ini mau belajar dari orang yang paling bijaksana pada masa itu. Belajar tentang hikmat Tuhan yang dimiliki Salomo itu tidak melelahkan ratu ini, sebab ratu sangat menginginkannya. Ratu berbahagia mendapatkan hikmat-hikmat yang belum ia ketahui dan miliki.
.

4. Melihat Melebihi Apa yang Didengar

Selain mendengarkan semua perkataan hikmat dari raja Salomo, ratu Syeba juga dapat melihat semua hal tetang kehidupan raja itu. Dengan melihatnya sendiri iapun memahami  akan hikmat yang  telah ia dengar itu. Melihat segala hikmat Salomo, dan istananya, makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayanannya melayani dan berpakaian, minumannnya dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah Tuhan, maka tercenganglah ratu itu, (ayat 4,5). Ratu Syeba benar-benar terpesona memperhatikan semua itu dan ia sangat bergembira dapat menyaksikan semuanya, sungguh sebagai suatu kehormatan baginya dapat melihatnya sendiri.
Ratu Syeba mempercayai serta membenarkan semua hal tentang  berita yang telah ia dengar tentang hikmat Salomo  yang memimpin dengan keadilan dan kebenaran itu. Dan ia berkata kepada raja: “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu, tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh setengahnyapun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar, (ayat 6,7).
Mata ratu Syeba terbuka, ia menyaksikan semua hikmat itu, tidak ada usaha yang sia-sia, baginya semua hal yang dilihatnya itu adalah sebuah harta yang sungguh mahal harganya, yang tidak ternilai. Diluar dugaan dan pikirannya tentang semua yang ia telah dengar tentang Salomo. Ternyata, yang ia lihat itu adalah jauh melebihi dari semua yang  ia telah dengarkan. Bukan cuma sekedar cerita saja tetapi hikmat itu nyata, menjadi kenyataan yang dapat dilihat oleh ratu sendiri.
.

5. Berbahagia karena Memperoleh Hikmat

Betapa menyenangkan hati ratu Syeba dapat melihat sendiri hikmat Salomo itu. Bertemu dan berbincang-bincang dengan raja Salomo serta melihat semua  yang ia dengar itu, walaupun hanya dalam beberapa waktu telah membuat ratu Syeba bergembira. Luapan kegembiraannnya itu diungkapkannya dengan perkataannnya kepada raja Salomo. “Berbahagialah para isterimu, berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan meyaksikan hikmatmu!, (ayat 8).
Ratu Syeba dapat merasakan kebahagiaan itu bila hidup dalam hikmat Tuhan yang dimiliki Salomo. Suatu kebahagiaan yang belum pernah ia terima sebelumnya telah dirasakannya kini karena telah memperoleh hikmat, kebahagiaan itu melampaui kebahagiaannya dalam memperoleh harta, emas  dan permata. Ratu Syeba terkenal dengan kekayaaannya, diatas kekayaan yang ia miliki itu ia menyatakan bahwa memperoleh hikmat itu lebih bernilai dari  apapun maka itu ia mengatakan alangkah bahagianya orang yang memperoleh hikmat.
“Berbahagialah orang yang mendapatkan hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan  perak, dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga daripada permata, apapun yang kau inginkan, tidak dapat menyamainya”, Amsal 3: 13-15.
.

6. Memuji  Tuhan

Apa yang dimiliki oleh raja Salomo itu bukanlah pengetahuan manusia, bukan pula kepintaran manusia, tetapi segala hal yang dipunyai oleh Salomo itu adalah berasal dari Tuhan. Allah telah memberikan hati yang penuh hikmat dan pengertian itu kepada Salomo. Salomo memulai masa pemerintahannya dengan iman dan kasihnya kepada Allah. Salomo telah berdoa memohon hikmat dan hati yang paham, dan Allah berkenan dengan permohonannya ini serta mengabulkannya. Bahkan apa yang tidak diminta Salomo pun Tuhan berikan yaitu kekayaan dan kemuliaan. Menyaksikan sendiri  hikmat yang dimiliki Salomo  itu maka ratu Syebapun memuji Tuhan.
“Terpujilah Tuhan, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel!”, (ayat 9a).
.

7. Bersyukur  Memperoleh Hikmat Tuhan

Raja Salomo telah memberikan semua hikmat yang dikehendaki dan yang diminta oleh ratu Syeba. Bagi ratu Syeba tidak ada seorang yang begitu bijaksana dan tidak ada Allah yang  begitu terkenal seperti yang disembah oleh raja Salomo. Sebelum kembali pulang ratu Syeba memberikan begitu banyak hartanya yang telah dipersiapkannya kepada Salomo karena ia telah memperoleh kekayaan hikmat  yang tidak ternilai itu. Kita mungkin sulit membayangkan kekayaan yang dimiliki oleh ratu Syeba, sebab wanita yang termasyhur ini dapat memberikan begitu banyak harta yang sungguh bernilai tinggi kepada raja Salomo, berupa emas, batu permata, rempah-rempah, dan kayu cendana dalam jumlah yang tidak pernah terdengar. Sebuah pemberian yang sangat besar dan Alkitab mencatat pada ayat 10-12 di atas,  bahwa dengan pemberian ratu Syeba tersebut, raja Salomo mengerjakan kayu-kayu itu menjadi langkah untuk rumah Tuhan, istana raja dan juga untuk menjadi kecapi dan gambus. Itu berarti  pemberian ratu Syeba kepada Salomo sangatlah besar jumlahnya.
Bagi ratu Syeba, semua pemberian itu, telah melebihi dari apa yang diperoleh, yaitu kini ia memiliki pengenalan yang sejati akan Allah dan hikmat yang menyertainya. Dan tidak ada harga yang dapat menyamai pengenalan akan Tuhan, karena “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian”, Amsal 9:10.
Melimpahnya harta-harta yang diberikannya kepada Salomo tidak bisa menandingi hikmat dan pengertian yang baru didapatkannya akan Allah. Ia bersyukur atas hikmat yang tak ternilai harganya. Ia kembali pulang ke negerinya melintasi padang pasir sejauh 1200 mil itu dengan membawa harta pusaka yang tak ternilai yaitu hati yang berhikmat, dan ia sudah dipenuhi oleh pengenalan akan Allah.
.
Menyenangkan bila kita melakukan perjalanan pencarian hikmat seperti yang ratu Syeba lakukan. Kita patut bersyukur dan memuji Tuhan sebab Ratu Syeba telah menunjukkan kepada kita betapa berharga dan mahalnya nilai hikmat itu. Hikmat itu lebih bernilai dari apapun juga. Untuk memperoleh hikmat kita harus memiliki kerinduan untuk mendengar hikmat, mencari hikmat dengan rela berkorban, mau belajar, melihat dan mengalami sendiri akan hikmat Tuhan, memperoleh kebahagiaan karena hikmat, dan memuji Tuhan serta bersyukur atas hikmat yang telah disediakan bagi kita. Ratu Syeba layak menerima penghargaan, dan Yesus sendiri memuji ratu dari selatan ini dengan semua langkah yang telah ditempuhnya untuk memperoleh hikmat itu. “Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan yang sesungguhnya yang ada disini lebih dari pada Salomo”, Matius 12:42.
*courtesy of PelitaHidup.com
Mendapatkan hikmat itu memang tidak gampang sebab hanya akan diperoleh oleh mereka yang dengan tekun mencarinya dan yang bersedia membayar harganya. Hubungan pribadi dengan Allah adalah langkah awal yang harus dilakukan  dalam memperoleh hikmat sejati. Kita dapat menerima hikmat dengan menghampiri Allah dan memohonnya dengan iman.  “Tetapi apabila diantara kamu ada yang kekurangan hikmat , hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya”, Yakobus  1:5.
Hidup pada zaman ini semuanya serba instan, kita hidup dalam masyarakat yang tergesa-gesa, bahkan manusia cenderung menginginkan segala sesuatu tanpa usaha. Menghadapi berbagai macam tantangan dan  tekanan hidup yang begitu kompleks, kita sangat memerlukan hikmat Tuhan, supaya dapat menghadapi setiap persoalan itu dengan baik dan tidak menjauhkan kita dari kasih Tuhan dan berkatNya. Kita perlu cerdas secara intelektual dan cerdas secara spiritual.
*courtesy of PelitaHidup.com
“Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulutNya datang pengetahuan dan kepandaian”, Amsal 2: 6.
Apakah kita telah berusaha untuk mengambil waktu setiap hari untuk memperoleh hikmat, dengan membaca Firman Tuhan. Firman Tuhan yang dapat memberikan hikmat kepada kita. Apakah kita bersedia juga membayar harga untuk membaca buku/situs rohani, mengikuti pelatihan/seminar rohani yang dapat membantu membuat kita menjadi bijaksana dalam jalan Allah?

Senin, 27 Desember 2010

Rencana keselamatan

Apakah Anda lapar? Bukan lapar secara fisik, tetapi apakah Anda lapar untuk hidup yang lebih baik? Apakah di dalam diri Anda ada sesuatu yang tidak pernah dipuaskan? Jika demikian, Yesus adalah jalannya. Yesus berkata, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yohanes 6:35).

Apakah Anda kebingungan? Apakah Anda sepertinya tidak pernah menemukan dan mengerti jalan kehidupan? Apakah hidup Anda seperti dalam kegelapan dan Anda tidak bisa mencari cara untuk meneranginya? Jika demikian, Yesuslah jalannya. Yesus mengatakan,"Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup" (Yohanes 8:12).

Apakah Anda merasa terkunci? Anda mencoba berbagai pintu, dan yang Anda temukan adalah kekosongan dan hal-hal yang tidak ada artinya? Apakah Anda mencari pintu masuk kepada hidup yang berkelimpahan? Kalau demikian, Yesuslah jalannya! Yesus berkata, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput” (Yohanes 10:9).

Apakah orang lain mengecewakan Anda? Apakah relasi Anda dengan orang lain dangkal dan kosong? Apakah Anda merasa bahwa orang lain selalu berusaha memanfaatkan Anda? Jika demikian, Yesuslah jalannya. Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; … Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” (Yohanes 10:11,14).


Apakah Anda memikirkan apa yang terjadi setelah Anda meninggal dunia? Apakah Anda capek dengan hal-hal yang pada akhirnya rusak dan hancur? Apakah Anda sering merenungkan apakah hidup ini ada artinya? Apakah Anda ingin hidup setelah mati? Jika demikian, Yesuslah jalannya! Yesus menyatakan, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya" (Yohanes 11:25-26).


Apakah jalan itu? Apakah kebenaran itu? Apakah hidup? Yesus menjawab,"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

Kelaparan yang Anda rasakan adalah kelaparan rohani, dan hanya dapat dikenyangkan oleh Yesus. Yesus adalah Satu-satunya yang dapat menerangi kegelapan Anda. Yesus adalah Pintu kepada hidup yang berkelimpahan. Yesus adalah Sahabat dan Gembala yang Anda cari-cari. Yesus adalah Hidup – sekarang dan akan datang. Yesus adalah Jalan keselamatan!

Penyebab dari kelaparan Anda, penyebab dari kegelapan yang melingkupi hidup Anda, penyebab dari kegagalan Anda mendapatkan makna hidup, semua itu adalah karena Anda terpisah dari Tuhan. Alkitab memberitahukan bahwa kita semua telah berdosa dan karena itu kita terpisah dari Tuhan (Pengkhotbah 7:20; Roma 3:23). Kekosongan yang Anda rasakan dalam hati adalah karena Tuhan tidak ada dalam hidup Anda. Kita diciptakan untuk berhubungan dengan Allah. Karena dosa kita, kita tidak dapat memiliki hubungan itu. Yang lebih parah lagi, dosa akan menyebabkan kita terpisah dari Tuhan untuk kekekalan, dalam hidup ini dan sesudahnya (Roma 6:23; Yohanes 3:36).


Bagaimana masalah ini dapat diselesaikan? Yesuslah jalannya. Yesus memikul dosa-dosa kita (2 Korintus 5:21). Yesus mati menggantikan kita (Roma 5:8) menanggung hukuman yang sepantasnya kita tanggung. Tiga hari kemudian Yesus bangkit dari antara orang mati, membuktikan kemenanganNya atas dosa dan kematian (Roma 6:4-5). Mengapa Dia melakukannya? Yesus sendiri menjawab pertanyaan ini, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Yesus mati supaya kita bisa hidup. Jika kita beriman kepada Yesus, percaya kepada kematianNya sebagai pembayaran atas dosa-dosa kita, semua dosa kita diampuni dan dibersihkan. Kelaparan rohani kita akan dikenyangkan. Terang akan bernyala. Kita akan mendapatkan jalan kepada hidup yang berkelimpahan. Kita akan mengenal Sahabat sejati dan Gembala kita yang baik. Kita akan tahu bahwa kita akan memiliki hidup setelah meninggalkan dunia ini, hidup dalam kebangkitan bersama dengan Yesus di surga untuk selama-lamanya.


“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Selasa, 21 Desember 2010

Hukum Rohani ada Empat

Empat Hukum Rohani adalah cara untuk membagikan kabar baik mengenai keselamatan yang tersedia melalui beriman di dalam Yesus Kristus. Empat Hukum Rohani adalah cara sederhana untuk menata informasi penting mengenai Injil ke dalam empat butir.

Hukum yang pertama dari Empat Hukum Rohani adalah “Tuhan mengasihi Anda dan memiliki rencana yang indah bagi hidup Anda.” Yohanes 3:16 memberitahu kita, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 10:10 memberi kita alasan kedatangan Yesus, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Apa yang menghalangi kita dari kasih Allah? Apa yang menghalangi kita dari hidup yang berkelimpahan?

Hukum yang kedua dari Empat Hukum Rohani adalah “Manusia telah dinodai oleh dosa dan karena itu terpisah dari Tuhan sehingga kita tidak dapat mengenal rencana Allah bagi hidup kita.” Roma 3:23 meneguhkan hal ini, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 6:23 memberitahu kita akibat dari dosa, “upah dosa ialah maut.” Tuhan menciptakan kita supaya kita bersekutu dengan Dia. Namun manusia membawa dosa ke dalam dunia dan karena itu terpisah dari Allah. Kita telah merusak hubungan yang Tuhan mau kita miliki. Apa solusinya?

Hukum ketiga dari Empat Hukum Rohani adalah “Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keluar dari dosa-dosa kita. Melalui Yesus Kristus dosa kita diampuni dan hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan kembali.” Roma 5:8 memberitahu kita, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” 1 Korintus 15:3-4 memberitahukan apa yang kita perlu tahu dan percaya supaya bisa diselamatkan, “bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci…” Dalam Yohanes 14:6, Yesus sendiri menyatakan bahwa Dia adalah satu-satunya jalan keselamatan, Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Bagaimana saya dapat menerima angerah keselamatan yang begitu indah ini?

Hukum keempat dari Empat Hukum Rohani adalah, “Kita harus beriman kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita agar dapat menerima anugerah keselamatan dan mengetahui rencana indah Tuhan bagi hidup kita.” Yohanes 1:12 memberikan gambaran sedemikian kepada kita, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Kisah Rasul 16:31 mengatakan dengan sangat jelas, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat!" Kita diselamatkan semata-mata karena anugerah, hanya melalui iman di dalam Yesus Kristus (Efesus 2:8-9).

Jikalau Anda mau percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat Anda, ungkapkan kepada Tuhan kata-kata berikut ini. Sekedar mengucapkan kata-kata ini tidak akan menyelamatkan Anda, hanya percaya kepada Tuhan Yesus yang akan menyelamatkan Anda. Doa ini hanyalah sebuah cara sederhana untuk mengungkapkan iman Anda kepada Tuhan dan untuk bersyukur kepadaNya untuk keselamatan yang Dia telah sediakan. “Tuhan, saya tahu bahwa saya telah berdosa kepadaMu dan pantas untuk dihukum. Namun Yesus Kristus telah menanggung hukuman saya sehingga melalui iman kepadaNya saya dapat diampuni. Saya bertobat dari dosa-dosaku dan percaya kepadamu untuk diselamatkan. Terima kasih untuk anugerah dan pengampunanMu yang ajaib, karunia hidup kekal! Amin!